Image Image Image Image Image
X

KOMENTAR


  • KUTIPAN

    “Belum pernah saya menonton film sekuat, seajaib, dan sengeri film ini setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir.”

    – Werner Herzog

    “Sebuah mahakarya yang unik dan dahsyat.”
    ‐ Dusan Makavejev

    “Sebuah penggambaran genosida yang luar biasa. Menanggapi pertanyaan tak terelakkan, ‘Apa yang mereka pikirkan?’ Joshua Oppenheimer menyediakan jawabannya. Film ini dimulai sebagai sebuah bentang mimpi, sebuah cara untuk menyediakan ruang bagi para pelaku genosida untuk memperagakan ulang apa yang pernah mereka lakukan, lalu hal yang menakjubkan terjadi. Mimpi itu larut ke dalam mimpi buruk, dan kemudian menjelma menjadi kenyataan pahit. Film yang menakjubkan dan tak terlupakan.”
    – Errol Morris

    “Jagal tak ada duanya dalam sejarah sinema.”
    ‐ Werner Herzog

    “Sekali waktu ada saja film non-fiksi yang sama sekali berbeda dengan apa yang sudah saya tonton selama ini: Land Without Bread karya Buñuel, Fata Morgana karya Werner Herzog, The Emperor’s Naked Army Marches On karya Hara. Sekarang, ada satu lagi. Joshua Oppenheimer mengundang pemimpin pasukan pembunuh yang tidak menyesali perbuatannya untuk membuat film fiksi dengan memeragakan ulang sejarah penuh kekerasan yang mereka alami. Mimpi sinematik mereka larut ke dalam mimpi buruk, lalu menjelma menjadi kenyataan pahit. Seperti semua dokumenter bagus, Jagal memaksa kita melihat realitas dengan cara yang lain. Film ini membawa kita ke rumah cermin di pasar malam—melihat apa yang disebut sebagai mis en abyme—ketika tokoh dalam kehidupan nyata menjadi tokoh dalam film lalu kembali ke dunia nyata lagi. Dan film ini mengajukan pertanyaan inti: ‘Yang nyata itu yang mana?’ Gabriel Garcia Marquez, dalam wawancara Paris Review, menulis reaksinya ketika membaca Metamorfosis karya Kafka untuk pertama kalinya, “Tadinya saya tidak tahu kalau kisah seperti ini mungkin ditulis.” Saya punya perasaan yang sama tentang film luar biasa ini.”
    ‐ Errol Morris

    “Jagal melahirkan sebuah bentuk baru surealisme sinematik.”
    - Werner Herzog



  • IN THE PRESS

    “The best, and most horrific, film of this year’s Toronto film festival…every frame is astonishing.”
    - The Guardian
    Read full five-star review

    “Werner Herzog said, ‘I have not seen a film as powerful, surreal and frightening in at least a decade.’ I can’t imagine what Herzog could have seen over a decade ago that would trump it.”
    “We wonder if films can change the world. This one is at least bound to have a devastating impact.”
    - Maclean’s Magazine
    Read full article

    Tom Charity of CNN calls The Act of Killing “a radical development in the documentary form and as an explosive journalistic expose. It’s also a deeply disturbing emotional experience, a movie that some audiences will find upsetting or hard to stomach, even if it is also poetic, funny, profoundly strange and moving.”
    Read the article”

    In her Toronto wrap for Fandor.com, B Ruby Rich calls THE ACT OF KILLING “shocking, transporting, unprecedented…the ultimate discovery of the festival”.
    Read the article

    Canada’s Macleans magazine calls “shattering” Act of Killing the best film of Toronto International Film Festival
    Read the article

    “Really, you need to see this movie. You just do. It’s one of the most compelling, riveting docs I’ve ever seen; I’ve never seen anything quite like it, and I’ll bet you haven’t either.”
    - Movie City News
    Read full review

    “A surreal, chilling and unprecedented examination of atrocity and accountability, it’s difficult to think of another documentary—or piece of media—that so thoroughly captures a mass murderer’s conscience—as well as charting its evolution.”
    - Screen Daily
    Read full review

    “Easily the boldest documentary at Telluride this year—maybe one of the boldest ever seen anywhere—is the Morris-produced ‘The Act of Killing’.”
    “A banality-of-evil portrait that culminates in an unforgettable realization of culpability and conscience among the otherwise remorseless killers.”
    “The ‘final act of “Killing,” in which one of the gangsters plays one of his own victims on film and is seemingly shattered by the experience, is as vivid an ending as anything you’ll see in fiction or non-fiction this year.”
    - The Wrap
    Read full article

    “The result is an emotionally exhausting, perverse examination of guilt and regret that ends with a powerfully visceral moment of vulnerability that will leave audiences speechless. ‘The Act of Killing’ is a truly great film. 5/5″
    - The Documentary Blog
    Read full review

    The Wrap’s Steve Pond lists The Act of Killing as favorite film of the 2012 Toronto Film Festival.
    Read the article

    Indonesian review of The Act of Killing in Jurnal Footage
    Click here for the full review (in Indonesian)

    “The study of the 1965-1966 killings in Indonesia, and for that matter the study of the country’s politics more generally, will never be the same again with the recent release of the documentary film The Act of Killing.”
    - Ariel Heryanto in the IIAS Newsletter (International Institute for Asian Studies in the Netherlands)
    Read full article

    “The most unsettling movie about mass killing since ‘Shoah’”
    - Indiewire
    Read full review

    “A documentary like no other I’ve seen… Hypnotic.”
    - Collider.com
    Read full review

    “The Act of Killing is a minor miracle.”
    - Badass Digest
    Read full review

    “The Act of Killing” is uncomfortable, disquieting and riveting; as the final credits rolled, with “anonymous” standing in for the names for the Indonesians who would surely be killed if their names were made public, you recognize that while the film is over, Indonesia’s nightmare is not, and won’t be and will never be as long as a government and a people make killers into movie-style heroes.”
    - MSN.com
    Read full review

    “Bizarre, hypnotic, audacious, The Act of Killing is also one of the queasiest and most distressing films to play TIFF in the last 15 years.”
    - The Globe and Mail
    Read full review

    The Act of Killing is “surreal, disturbing, timeless… Could well change how you view the documentary form…”
    - LA Times
    Read full article”

    Criticwire made a survey among film critics at Toronto International Film Festival: Tom Charity (CNN.com), Steve Dollar (The Wall Street Journal), Jordan Hoffman (ScreenCrush.com), Adam Nayman (The Grid), Jordan Smith (IONCINEMA.com) and Kim Voynar (Movie City News) name The Act of Killing the best documentary at TIFF 2012 (and several other critics call it the second best).
    Read the article

    Jay Kuehner calls The Act of Killing “mind-bending, hyper-reflexive documentary” on Fandor.com
    Read the article

    “Unforgettable, unmissable, horribly brilliant.”
    - The Guardian
    See video report

    Indiewire: “Joshua Oppenheimer On This Year’s Most Disturbing Doc and Working with the Heads of Indonesian Death Squads to Re-Enact Mass Murders”"

    The Documentary Channel: “The Act of Killing is Suddenly My Most Anticipated Documentary of the 2012 Toronto International Film Festival”

    Indiewire: “Joshua Oppenheimers Documentary ‘The Act of Killing’ Premieres at Telluride, Screens at Toronto”

    The Hollywood Reporter: “Telluride 2012: Errol Morris, Ken Burns Welcome the Next Great Documentarians”



  • KOMENTAR DI INDONESIA

    The Act of Killing menjadi paparan kompleks dan multidimensional tentang motif-motif manusia dalam melakukan dan menyikapi tindak kekerasan…. Ia juga telah memberi kita masukan mendalam untuk tak melihat sejarah 1965 secara garis besar dan hitam-putih saja, namun membawanya ke tataran paling personal tentang dampak panjang yang dihasilkan oleh kekerasan massal terhadap hidup dan kejiwaan masing-masing orang dalam masyarakat Indonesia, sampai sekarang.

    The Act of Killing memakai cara yang tiada duanya untuk menghidupkan kembali horor sejarah. Pendekatannya begitu orisinal dan di luar bayangan apapun yang saya punya tentang filem dokumenter.

    (Ronny Agustinus—penulis, kritikus sastra dan film)

     

    The Act of Killing adalah pencapaian puncak dalam genre dokumenter di dunia ini. Karya yang brilian. Terobosan penting. The Act of Killing menggugah kita lagi tentang gelap masa lalu yang kita punya. The Act of Killing memperlihatkan bagaimana (potensi) kekerasan itu berlanjut terus hingga ke hari ini. The Act of Killing memperlihatkan kekerasan dan pembunuhan itu “wajar” bagi sebagian masyarakat yang hendak membela “negara kesatuan.” Satu pola yang berulang terus: “alat negara”/kaum saudagar menggunakan (organisasi) preman/vigilante untuk memusnahkan lawan.

    (Nirwan Dewanto—penyair)

     

    Film ini berbicara tentang titik terpenting dari seluruh sejarah Republik Indonesia. Hadirnya film ini sendiri merupakan sebuah peristiwa bersejarah yang sulit dicari duanya. Satu-satunya bandingan yang layak disebut adalah terbitnya 4-jilid novel karya Pramoedya Ananta Toer di tahun 1980an selepas dari pembuangan di Pulau Buru: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

    Novel-novel Buru melacak awal terbentuknya bangsa-negara Indonesia. Jagal bersaksi tentang hancurnya sendi dasar bangsa-negara ini di tangan pembantai Indonesia sendiri.

    (Ariel Heryanto—sosiolog, pengamat kebudayaan)

     

    Film The Act of Killing bakal menghebohkan hingga dunia internasional. Bukan lantaran temanya saja, namun film ini juga memotret langsung pelaku lapangan dari organisasi yang sampai saat ini masih berpengaruh. Film ini akan makin menunjukkan apa sebenarnya terjadi pada pembantaian 1965.

    (Haris Azhar—Koordinator Eksekutif KontraS)

     

    Film Jagal menunjukkan betapa orang kehilangan segala perasaannya untuk suatu kejahatan terhadap kemanusiaan. Kejahatan yang diperlihatkan oleh sang jagal, Anwar Congo, seharusnya tidak boleh terjadi selama-lamanya. Sangat-sangat tidak boleh, ini memalukan.

    Saya berharap film ini lebih banyak lagi ditonton oleh masyarakat Indonesia. Biar mereka berpikir supaya bisa mendobrak kebuntuan. Film ini jauh lebih baik ketimbang banyak bicara omong kosong tentang kejahatan kemanusiaan.

    (Franz Magnis Suseno—rohaniawan)

     

    Peluncuran The Act of Killing adalah tonggak sejarah hak asasi manusia di Indonesia

    The Act of Killing akan makin menguatkan bukti perlunya pembentukan pengadilan hak asasi adhoc buat kasus 1965, seperti rekomendasi yang dibuat oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Juli lalu.

    Selama ini masyarakat Barat mengakui (pembantaian PKI) itu jahat tapi perlu dilakukan. Film ini akan mengubah pandangan Barat dalam konteks Perang Dingin terhadap peristiwa 1965.

    (Asvi Warman Adam—sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)

     

    Ya, bangsa ini butuh pertolongan. Agar luka bersama yang selama ini terus menerus ditutupi, bisa disembuhkan. Film Jagal salah satu upaya membuka luka ini. Mungkin tak mudah dan sangat menyakitkan sekaligus menakutkan, tetapi bagaimanapun harus dihadapi. Film ini telah menawari kita agar kita punya kesanggupan dan keberanian untuk melihat, mengkaji, dan kemudian menyembuhkannya bersama-sama, bukan sendiri-sendiri.

    (Titarubiseniman)

     

    Saya masih muda, saya tidak hidup di masa ketika pemerintah Orde Baru mengejar-ngejar para anggota PKI, tapi saya juga tidak buta untuk tahu bahwa persoalan itu sampai kini bahkan belum selesai. Jadi yang paling realistis yang bisa kita lakukan yakni membangkitkan kesadaran tentang betapa pentingnya film ini untuk disebar bukan hanya di tempat-tempat para aktivis bersarang, tapi justru di tempat-tempat masyarakat awam dan para anak muda yang masih belum mengerti ‘politik’ bangsanya berkumpul sehingga harus diajak untuk mulai melek. The Act of Killing Harus diputar di kampus-kampus, juga di pusat-pusat kebudayaan yang bisa diakses oleh publik.

    (Ucu Agustinpembuat film)

     

    Jumlah korban di Sumatera Utara sulit diperkirakan. Namun, sampai sekarang masyarakat Sumatera Utara masih bisa menunjuk setiap killing field terutama yang ada di daerah-daerah perkebunan.

    Film The Act of Killing diperkirakan akan menggedor kembali memori kolektif rakyat. Selain menunjukkan perang ideologi dan perebutan kesadaran masyarakat Indonesia, pencitraan jagal sebagai pahlawan merupakan gambaran bahwa Indonesia mempunyai sejarah kekerasan yang panjang. Reaksi masyarakat luas tentang film The Act of Killing bisa dijadikan alat untuk melihat apakah bangsa Indonesia masih peduli dengan peristiwa 1965.

    (Budi Agustono—sejarawan Universitas Sumatera Utara)

     

    The Act of Killling wajib ditonton. Indonesia perlu berdamai dengan masa lalu sebelum proses penyembuhan bisa dimulai.

    Kalau saja ada cara yang bisa membuat setiap orang menonton The Act of Killing sekali saja, seperti bagaimana di bawah pemerintahan Soeharto kita harus menonton Pengkhianatan G30S/PKI setiap tahun, mungkin Indonesia bisa memulai sebuah debat terbuka mengenai episode tragis dalam sejarah bangsa ini.

    Belum jelas apakah film ini akan lolos sensor pemerintah, tapi jika tidak lolos, Indonesia akan kehilangan sebuah kesempatan emas untuk menyembuhkan diri sendiri dan membangun masa depan yang layak bagi sebuah bangsa yang besar.

    Mari kita berharap film ini bisa beredar seperti yang direncanakan distributornya tahun ini. Demi kebaikan Indonesia sendiri.

    (Endy Bayuni—The Jakarta Post)

     

    The Act of Killing adalah film dokumenter yang paling dalam dan paling merangsang pikiran yang pernah saya tonton. Melalui film ini, kita melihat bahwa di negeri ini, bahkan tindak pembunuhan—terutama pembunuhan terhadap banyak orang—dapat menjadi sebuah prestasi.

    (Farah Wardani—the Jakarta Globe)

     

    Film panjang karya Oppenheimer yang dipuji peminat film non-hiburan di luar negeri itu, sepatutnya ditonton orang Medan dan Sumut. Mereka perlu tahu sejarah yang kelam menyangkut orang-orang kiri untuk dijadikan penyeimbang pelajaran sejarah dan stigma buruk yang dipaksakan Rezim Orba dan tertanam kuat dalam diri masyarakat Sumut.

    Itu penting, sekalian memulai gerakan resistensi pada praktik-praktik kepremanan yang sebetulnya tak beda jauh dengan zombie. Kesadaran kaum terpelajar amat dinantikan untuk memperbaiki mentalitas yang seolah melegitimasi cara-cara intimidasi dan kekerasan demi uang dan kepentingan.

    Kaum terpelajar Medan sangat diharap memimpin pergerakan menuju perubahan. Niscaya, masyarakat Sumut akan mengikut perlahan-lahan. Film The Act of Killing yang mengungkap kekejaman yang terbungkam puluhan tahun itu biarlah dijadikan penggerak menuju perubahan, dan lebih mulia lagi bila dibarengi permintaan maaf bagi keluarga korban.

    (Suhunan Situmorang—Medan Magazine)

     

    The Act of Killing (Jagal) adalah sebuah pengalaman sinematik yang gelap, meresahkan, dan mengguncang pikiran. Sebuah serangan yang konstan terhadap nalar, begitu jujur dan apa adanya, Jagal, sendirian, meluluhlantakkan mitos G30S/PKI yang secara obsesif didengungkan. Jagal adalah film terpenting yang pernah dibuat di Indonesia dan untuk Indonesia, karena ia menyajikan dengan terang-terangan sebuah kebenaran yang paling tak mengenakkan tentang negeri ini. Jagal bukan semata-mata film tentang pembunuh massal, tetapi lebih tentang kebobrokan moral di Indonesia yang memungkinkan kejahatan bertahan, berkembang-biak, dan menang. Dalam alur pikiran itu, Jagal adalah juga film tentang 2012 selain tentang 1965; sebuah film tentang masa depan Indonesia sekaligus tentang masa lalunya. Betapa ironis banyak penonton bioskop Indonesia terobsesi dengan film horor norak sementara horor terbesar bangsanya sendiri justru diabaikan.

    Kadang, mencintai sebuah tempat berarti membicarakan kebenaran mengenainya sekalipun menyakitkan. Saya berharap Indonesia akan merangkul Joshua Oppenheimer sebagai seorang sahabat, karena dia telah melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang sahabat.

    (Daniel Ziv—penulis lepas, kurator)

     

    Film Jagal adalah dokumenter tentang kekerasan terhadap tertuduh anggota PKI akhir 60′an dan penjagal yang masih hidup hingga hari ini. Cerita yang dingin, kejam, menyentuh dan sekaligus membuka kenyataan hubungan negara dengan premanisme hari ini. Bangsa Preman?

    (Riri Riza—sutradara)