Image Image Image Image Image
X

PERNYATAAN



  • PERNYATAAN SUTRADARA
    Oleh Joshua Oppenheimer

    Permulaan

    Pada Februari 2004, saya memfilmkan mantan pemimpin pasukan pembunuh yang memeragakan bagaimana, dalam waktu kurang dari tiga bulan, dia dan teman-teman sesama pembunuh membantai 10.500 orang yang dituduh sebagai komunis di suatu tempat terbuka di tepi sebuah sungai di Sumatera Utara. Setelah ia menyelesaikan penjelasannya, dia meminta kepada asisten saya, juru rekam suara, untuk memotret beberapa foto bersama kami di tepi sungai. Ia tersenyum lebar, mengacungkan jempol di satu foto, dan simbol ‘V’ tanda kemenangan pada foto berikutnya.

    Dua bulan kemudian, foto lain, kali ini beberapa tentara Amerika Serikat tersenyum dan mengacungkan jempol ketika menyiksa dan memperhinakan tahanan Irak, muncul dalam pemberitaan (Errol Morris kemudian mengungkap bahwa foto-foto ini ternyata lebih kompleks daripada kesan pertamanya). Hal paling mengganggu dari gambar-gambar ini bukanlah kekerasan yang mereka dokumentasikan, tapi lebih kepada apa yang mereka kesankan kepada kita mengenai bagaimana orang-orang di dalam foto itu, pada momen itu, ingin dilihat. Dan apa yang mereka pikirkan, pada saat itu, tentang bagaimana mereka ingin mengingat diri mereka sendiri. Lebih lagi, berlagak (performing), akting, dan berpose kelihatannya adalah bagian dari prosedur penghinaan.

    Arti penting foto-foto ini bukan karena foto tersebut menggambarkan situasi fisik penyiksaan, tetapi terlebih sebagai bukti forensik mengenai imajinasi yang terlibat dalam penganiayaan. Dan foto-foto ini lekat dalam pikiran saya ketika, satu tahun kemudian, saya bertemu Anwar Congo dan tokoh-tokoh lain gerakan paramiliter Pemuda Pancasila.

    Jauh atau dekat dari kampung halaman?

    Perbedaan antara situasi yang saya filmkan di Indonesia dengan situasi lain yang melibatkan penganiayaan massal selintas tampak jelas. Tidak seperti di Rwanda, Afrika Selatan, atau Jerman, di Indonesia tidak pernah ada komisi untuk kebenaran dan rekonsiliasi, tidak ada pengadilan HAM, tidak ada tugu peringatan untuk para korban. Sebaliknya, sejak melakukan kejahatannya, para pelaku dan anak didik mereka justru memerintah negeri ini, bersikeras untuk dihormati sebagai pahlawan nasional oleh masyarakat umum yang patuh (dan seringkali ketakutan). Tapi apakah situasi ini benar-benar istimewa? Di kampung halaman saya (Amerika Serikat), para jawara penyiksaan, penghilangan paksa, dan penahanan tanpa batas waktu berada di posisi tertinggi kekuasaan politik, dan pada saat yang sama, mereka sibuk membangun citra sebagai pahlawan penyelamat peradaban Barat. Bahwa narasi seperti ini bisa dipercaya (sekalipun semua bukti bertolak belakang) memberi petunjuk adanya sebuah kegagalan imajinasi kolektif kita, dan pada saat yang sama mengungkap kekuatan penuturan cerita (storytelling) dalam membentuk apa yang kita lihat.

    Dan bahwa Anwar dan kawan-kawan begitu mengagumi film-film Amerika, musik Amerika, pakaian Amerika—semua ini menyebabkan gaung itu semakin sulit untuk diacuhkan, menjelmakan apa yang saya filmkan menjadi sebuah alegori mimpi buruk.

    Membuat film bersama penyintas

    Ketika saya mulai mengerjakan Jagal/The Act of Killing pada 2005, saya telah membuat film selama tiga tahun bersama para penyintas (survivor) pembantaian massal 1965-66. Saya tinggal selama setahun di sebuah desa dengan banyak penyintas di daerah perkebunan di sekeliling Medan. Saya menjadi sangat dekat dengan beberapa keluarga di sana. Selama periode itu, Christine Cynn dan saya berkolaborasi dengan serikat buruh perkebunan untuk membuat The Globalization Tapes, dan memulai produksi sebuah film tentang satu keluarga penyintas yang mulai mendatangi para pembunuh (dengan martabat dan kesabaran luar biasa) yang membunuh anaknya. Upaya kami untuk merekam pengalaman para penyintas—yang tidak pernah diekspresikan kepada umum—berjalan di bawah bayang-bayang para penyiksa, juga ketika para algojo yang membunuh saudara-saudara mereka—orang yang, seperti Anwar Congo, masih bisa mengumbar sesumbar tentang perbuatan mereka di masa lalu.

    Ironisnya, kami menghadapi risiko terbesar ketika membuat film bersama para penyintas. Kami terus menerus menghadapi berbagai rintangan. Sebagai contoh, ketika kami mencoba merekam adegan seorang mantan tahanan politik, orang Jawa, menyanyikan tembang balada tentang kehidupan mereka di kamp tahanan (menggambarkan bagaimana mereka bekerja paksa untuk perkebunan milik orang Inggris, dan bagaimana setiap malam, beberapa teman mereka di-bon pasukan pembunuh dan tak pernah kembali), kami dihentikan oleh polisi yang kemudian menahan kami. Di waktu lain, pihak manajemen perkebunan London-Sumatera menghentikan syuting dengan cara ‘mengundang’ kami ke dalam sebuah pertemuan di kantor pusat perkebunan. Atau kepala desa dengan dikawal tentara datang dan mengatakan bahwa kami tidak punya izin untuk membuat film di situ. Atau sebuah ‘LSM’ yang bekerja dibidang ‘rehabilitasi korban 1965-66’ datang dan menyatakan “Wilayah tersebut adalah ‘lahan’ mereka—orang-orang di kampung itu harus mengeluarkan iuran untuk perlindungan.” (Ketika kami kemudian mengunjungi kantor LSM itu, kami temukan bahwa ketua LSM tersebut tidak lain tidak bukan adalah pelaku utama pembunuhan di daerah tersebut—seorang teman Anwar Congo—dan staf LSM-nya potongannya kelihatan seperti intel tentara.)

    Bukan hanya kami merasa tidak aman membuat film bersama mereka, kami juga khawatir akan keselamatan mereka. Dan para penyintas tidak dapat menjawab pertanyaan bagaimana pembunuhan tersebut dilakukan.

    Para Pembunuh yang Gemar Sesumbar

    Para pembunuh lebih dari sekadar bersedia membantu, dan ketika kami merekam mereka menggambarkan kejahatan terhadap kemanusiaan dengan penuh kesombongan, kami tidak mendapati penentangan apapun. Semua pintu terbuka lebar. Polisi setempat menawarkan pengawalan ke tempat pembunuhan massal, menyapa atau mengobrol penuh kelakar, tergantung seberapa dekat hubungan mereka dan seberapa tinggi kedudukan sang pembunuh. Perwira militer bahkan menugaskan serdadu untuk menahan orang-orang yang merubung di kejauhan agar perekaman suara tidak terganggu.

    Situasi aneh ini adalah titik berangkat kedua bagi saya untuk membuat Jagal/The Act of Killing. Dan pertanyaan di benak saya adalah: bagaimana memaknai hidup dalam (dan di bawah pemerintahan) sebuah rezim yang kekuasaannya bersandar pada pergelaran (performance) para pembunuh massal dan cerita sesumbarnya kepada publik, bahkan sebagai ancaman yang membungkam para penyintas. Sekali lagi, kelihatannya ada sebuah kegagalan imajinasi yang parah.

    Di Indonesia, secara umum, keterbukaan tentang pembunuhan seperti itu bisa jadi akan dianggap keterlaluan. Tapi di Sumatera Utara, hal itu adalah prosedur operasi standar. Kekuasaan preman datang dari bagaimana mereka membuat orang takut, dan para preman yang menguasai Sumatera Utara telah mengumandangkan peran mereka dalam genosida sejak pembantaian itu dimulai, membingkainya sebagai perjuangan heroik, dan pada saat yang sama, setiap saat, membubuhinya dengan rincian yang mengerikan sehingga melahirkan ketidaknyamanan, kegelisahan, juga teror akan kemungkinan terulangnya kembali pembantaian semacam itu. (Di Jawa Timur dan Bali, pasukan pembunuh direkrut dari kelompok agama, sementara di Jawa Tengah dan tempat lain, para pembunuh itu adalah anggota komando pasukan khusus. Tidak seperti preman, kelompok-kelompok itu tidak harus memiliki kekuasaan yang bersandar pada ketakutan orang terhadap mereka.)
    Dalam perannya sebagai bos politik di Sumatera Utara (provinsi berpenduduk 14 juta jiwa) para preman terus-menerus memuliakan diri mereka sendiri sebagai pahlawan, mengingatkan masyarakat akan peran mereka dalam pembantaian, sekaligus tanpa henti mengancam para penyintas—dan mereka melakukannya sebagai gubernur, anggota DPD, anggota parlemen, dan dalam satu kasus yang mencolok, seorang veteran genosida 1965-66, anehnya diangkat sebagai deputi menteri yang mengurusi bidang hukum dan hak azasi manusia.

    Menyergap Kesempatan

    Saya paham bahwa preman tidak memegang monopoli kekuasaan yang sama di daerah lain di Indonesia—termasuk di Jakarta. Jadi, dalam hal ini, situasi di Sumatera Utara berbeda dari daerah lainnya. Para pelaku pembantaian di daerah lain tidak perlu terlalu terbuka, bukan karena mereka takut dihukum (mereka tidak takut hukum), tapi karena mereka tidak perlu menggunakan cerita-cerita genosida sebagai alat intimidasi politis dan kriminal. Dan begitu pula, sebagaimana situasi di Sumatera memiliki kemiripan dengan Amerika Serikat, maka mereka juga memanfaatkan sebuah logika impunitas total yang membentuk Indonesia secara keseluruhan dan mungkin juga setiap rezim lain yang dibangun di atas teror dan ceritanya yang mengancam.

    Dalam situasi ini, saya melihat sebuah kesempatan: jika para pelaku di Sumatera Utara diberi sarana untuk mendramatisasikan ingatan mereka tentang genosida dalam gaya apapun yang mereka suka, mereka mungkin akan mencoba mengagungkannya lebih lanjut, menjelmakannya menjadi sebuah “film keluarga yang indah” (sebagaimana dikatakan Anwar), penuh dengan berbagai genre yang berwarna-warni, dan akan mencerminkan emosi yang berlapis, saling bertentangan, mengenai “masa lalu mereka yang gemilang.” Saya mengantisipasi bahwa hasil dari proses ini akan menjadi sebuah pemaparan, bahkan bagi orang Indonesia sendiri, mengenai betapa kuatnya impunitas dan ketiadaan resolusinya bercokol di negeri ini.

    Lebih lanjut, Anwar dan kawan-kawan telah membantu membangun rezim yang meneror korban-korbannya dengan memperlakukan para pelaku pembantaian sebagai pahlawan, dan saya menyadari bahwa proses pembuatan film akan menjawab banyak pertanyaan mengenai sifat-sifat rezim tersebut—pertanyaan yang kelihatannya tidak sepenting, “Apa yang persisnya dulu mereka lakukan,” tetapi sebetulnya tak terpisahkan. Sebagai contoh, bagaimana Anwar dan kawan-kawan membayangkan bagaimana orang lain melihat mereka? Bagaimana mereka ingin dilihat? Bagaimana mereka melihat diri sendiri? Bagaimana mereka melihat korbannya? Bagaimana cara mereka berpikir tentang pandangan orang lain terhadap diri mereka mengungkap apa yang mereka bayangkan tentang dunia tempat mereka menjalani hidup dan kebudayaan yang mereka bangun. Metode pembuatan film yang digunakan dalam Jagal/The Act of Killing dikembangkan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi. Metode ini paling baik dilihat sebagai sebuah teknik investigasi yang disempurnakan untuk membantu kita memahami bukan hanya apa kita lihat, tetapi juga bagaimana kita melihat, dan bagaimana kita membayangkan. Ini adalah beberapa pertanyaan yang sangat penting dalam upaya memahami prosedur imajinatif yang memungkinkan manusia saling membunuh satu sama lain, dan bagaimana kita kemudian membangun (dan hidup di dalam) masyarakat yang didirikan di atas kekerasan sistemik dan berkelanjutan.

    Rekasi Anwar

    Jika tujuan saya memprakarsai proyek ini adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi, dan jika niat yang dinyatakan Anwar adalah untuk mengagungkan aksinya di masa lalu, pastilah ia akan kecewa pada hasil akhir dari film ini. Akan tetapi, sebuah komponen krusial dari proses pembuatan film ini adalah pemutaran footage rekaman kembali ke Anwar dan kawan-kawan sepanjang proses syuting. Tak terhindarkan, kami pun memutarkan adegan yang paling menyakitkan. Mereka tahu apa yang ada di dalam film, dan bahkan, mereka secara terbuka berdebat mengenai konsekuensi film ini, di dalam film ini. Dan melihat adegan-adegan seperti ini hanya membuat Anwar semakin tertarik dengan karya ini, dan ini membantu saya secara bertahap menyadari bahwa Anwar sebetulnya sedang menempuh sebuah perjalanan yang paralel, lebih personal, melalui proses pembuatan film. Sebuah perjalanan untuk berdamai dengan makna seluruh yang pernah diperbuatnya. Dengan pemahaman ini pula kita melihat bahwa Anwar adalah tokoh yang paling berani dan paling jujur dalam Jagal/The Act of Killing. Anwar mungkin suka, mungkin tidak suka hasilnya, tapi saya telah mencoba menghargai keberanian dan keterbukannya dengan menampilkan sosoknya dengan jujur, dan dengan kepedulian yang teramat sangat, sebisa mungkin, sekaligus tetap memberikan keleluasaan pada perbuatannya yang tak tersampaikan dengan kata-kata.

    Tidak ada resolusi gampang untuk Jagal/The Act of Killing. Pembunuhan satu juta orang dijejali dengan kerumitan dan kontradiksi. Singkatnya, pembantaian itu meninggalkan kekacauan nan amburadul di belakang hari. Terlebih ketika para pembunuh itu masih bertahan dalam kekuasaannya, ketika upaya penegakan keadilan tiada, dan ketika cerita ini sampai sekarang hanya dipakai untuk mengintimidasi para penyintas. Berusaha memahami situasi ini, melakukan intervensi di dalamnya, mendokumentasikannya—ini, tentu saja, sama semrawutnya, kusut.

    Perjuangan berlanjut

    Saya telah mengembangkan sebuah metode pembuatan film yang saya jadikan alat untuk memahami mengapa kekerasan ekstrem, yang kita harapkan menjadi tak terbayangkan, tidak hanya terus terbayangkan tapi juga secara rutin dipergelarkan. Saya telah mencoba memahami kekosongan moral yang memungkinkan para pelaku genosida dirayakan oleh televisi publik dengan penuh sorak sorai dan senyum. Sebagian penonton mungkin menginginkan sebuah resolusi di akhir film, sebuah perjuangan menuntut keadilan yang berhasil menciptakan perubahan pada perimbangan kekuasaan, mendorong terbentuknya peradilan HAM, restitusi, dan permintaan maaf resmi. Satu film, sendirian, tidak dapat menciptakan perubahan itu, walaupun begitu, harapan tersebut adalah inspirasi bagi kami, sebagaimana kami terus berusaha menyoroti babak tergelap dalam kisah manusia, baik lokal maupun global, dan mengekspresikan akibat nyata dari kebodohan, ketakhirauan, dan ketidakmampuan mengendalikan keserahakan dan dahaga untuk berkuasa di dalam masyarakat dunia yang semakin menyatu. Ini, pada akhirnya, bukan kisah tentang Indonesia belaka. Ini adalah kisah tentang semua orang di dunia.



  • PERNYATAAN PRODUSER
    Oleh Signe Byrge Sørensen

    Sejak remaja saya selalu bertanya-tanya tentang pembantaian orang-orang Yahudi oleh Nazi, juga berbagai genosida yang terjadi. Mengapa pembantaian seperti itu terjadi? Apa yang membuat seseorang memperlakukan orang lain dengan kejam? Kenapa seseorang berangkat membunuhi tetangganya sendiri? Dan kenapa orang lain membiarkan hal ini terjadi? Ketika saya mempelajari masalah ini dengan lebih cermat, saya menemukan bahwa cerita yang mereka sampaikan mengenai pihak lain memainkan peran yang sangat besar dalam proses genosida. Jika kita mengidentifikasi sekelompok orang, menggambarkannya sebagai kejam, jahat, dan sangat kuat, sedikit banyak hal itu membuat pembunuhan terhadap mereka jadi lebih mudah dilakukan. Lagi pula, si pembunuh dapat mengaku bahwa pembunuhan itu adalah bela diri, dan para korbannya adalah ‘orang jahat’nya.

    Dan jika, pada saat yang sama, orang-orang yang menjadi pimpinan memiliki hierarki, sumber daya, dan antek-antek yang sudah disiapkan, maka proses genosida menjadi amat sangat mudah, dan kadang-kadang teramat cepat. Jika, di sisi lain, kita mendengar suara-suara kritis yang mengajukan pertanyaan yang sulit tentang keabsahan peristiwa yang sedang berlangsung, proses pembunuhan bisa diinterupsi, dan kejadian yang lebih buruk bisa terelakkan—dan interupsi ini memberi kesempatan bagi semua orang untuk berpikir. Pada kasus terbaik, interupsi ini juga bisa menghentikan prosesnya sama sekali, sebelum semuanya terlambat.

    Joshua Oppenheimer adalah orang yang mengajukan pertanyaan yang sulit itu. Dan dalam film ini ia bertanya pada orang yang paling kita takuti: para pembantai. Walaupun begitu, ia tidak hanya memusatkan perhatian pada pelaku langsung di tingkat bawah, dan ia tidak puas dengan penjelasan psikologis sederhana. Dia ngotot sampai dia bisa menunjukkan keseluruhan hierarki yang terlibat, dan ia mengupas lapis demi lapis bagaimana penuturan cerita (storytelling), pembunuhan, politik, dan ekonomi semuanya saling berjalin berkelindan.

    Ketika saya bertemua Joshua dan mendengar tentang film ini, saya menjumpai seorang sutradara yang bukan cuma sedang membuat film (walaupun itu saja sudah merupakan pekerjaan yang berat), tapi juga seseorang yang sedang melakukan penyelidikan fundamental mengenai kondisi manusia, sosial dan politik yang memungkinkan terjadinya genosida. Saya bangga menempuh perjalanan ini bersamanya.



  • PERNYATAAN KO-SUTRADARA

    Oleh Anonim
    Saya adalah satu dari ribuan mahasiswa yang berdiri berhadap-hadapan dengan polisi anti-huru-hara pada 1998, mendesak diktator militer Orde Baru untuk segera lengser. Saya bukan pemimpin mahasiswa yang berorasi di depan dengan berapi-api; saya hanyalah seorang pendukung yang ikut urun badan karena merasa bahwa momen itu mungkin akan sangat berarti dalam sejarah.

    Setelah lebih dari tiga dasawarsa berkuasa, Jenderal Suharto akhirnya tumbang. Sejak saat itu banyak terjadi perubahan. Undang-Undang Dasar diamendemen empat kali. Pemerintah tidak lagi bisa membreidel media dan juga tak lagi dibolehkan menarik buku dari peredaran. Presiden, Gubernur, dan Bupati dipilih langsung. Tidak ada pembatasan jumlah partai politik, walaupun masih ada larangan untuk mengusung ideologi Marxisme dan komunisme. Walaupun begitu, pengalaman saya bekerja bersama masyarakat akar rumput, berupaya menciptakan distribusi penguasaan sumber daya alam yang lebih adil, sebagai contoh, masih terus menemui jalan buntu. Jual beli suara dalam pemilu menjelmakan ‘demokrasi’ sehebat-hebatnya hanya sebagai sebuah prosedur ‘pentas’ formal. Di mana-mana korupsi masih merajalela. Munir dibunuh dalam penerbangannya ke Belanda ketika hendak bersekolah, dan tidak ada upaya serius untuk menghukum siapa pun yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Pelanggar HAM maju sebagai calon presiden atau wakil presiden dalam pemilu, dan tak sedikit pula yang mencoblosnya. Kekerasan masih sering digunakan sebagai bahasa politik. Dalam pelajaran sejarah dari SD sampai SMA tidak disebutkan bahwa pada 1965-66 jutaan rakyat Indonesia dibunuh, dipenjara, disiksa, dijadikan budak, diperkosa, dirampas dan dirusak harta bendanya, didiskriminasi dan dilanggar hak-hak azasinya selama puluhan tahun. Kejaksaan membakar buku pelajaran sejarah yang tak menulis “/PKI” di belakang G30S. Sebuah penerbit besar membakar sendiri bukunya karena tekanan kelompok masyarakat. Lembaga sensor film masih ada….

    Dengan kata lain, sebetulnya tak ada yang betul-betul berubah sejak saat Jenderal Suharto merebut kekuasaan sampai sekarang, 14 tahun sesudah ia tumbang. Wajah bangunan politik Indonesia boleh jadi berubah sejak reformasi politik 1998, tetapi di dalam bangunan itu, mesin-mesin lamanya masih bekerja dengan cara yang persis sama.

    Pada tahun 2004, saya bertemu Joshua dan Christine untuk membantu mereka memulai eksplorasi filmis tentang genosida 1965-1966 di Sumatera Utara. Pada awalnya, saya bekerja bersama mereka selama sebulan. Saya tidak menyadari bahwa saat itu hanyalah bulan pertama dari perjalanan kerjasama selama delapan tahun. Membuat film ini juga menjadi sebuah perjalanan pribadi bagi saya untuk mencari jawaban kenapa kebekuan sosial dan politik ini terus berlangsung.

    Melalui imajinasi dan ingatan yang dipertunjukkan oleh para pembunuh massal—mereka yang mendukung dan bahkan menciptakan struktur koruptif ini—saya melihat, dengan cukup jelas, bagaimana salah satu mesin tua dari rezim yang lalu masih bekerja dengan sangat efisien. Mesin itu adalah sebuah ‘proyektor’ yang terus-menerus menyorotkan sebuah film fiksi secara berulang-ulang ke kepala setiap orang Indonesia. Orang seperti Anwar dan kawan-kawan adalah ‘proyeksionisnya’; mereka memastikan filmnya berisi propaganda subtil yang tak terelakkan dan menciptakan jenis fantasi sebagai satu-satunya dunia yang boleh dihuni oleh orang Indonesia, jenis fantasi yang memberi penjelasan mengenai dunia di sekelilingnya; sebuah fantasi yang membuat orang Indonesia tidak peka terhadap kekerasan dan impunitas yang membentuk masyarakat kita. Ini adalah warisan sesungguhnya dari tirani masa lalu: penghapusan kemampuan kita untuk membayangkan yang selain itu.

    Saya bekerja bersama Joshua membuat Jagal/The Act of Killing dalam rangka membantu diri saya sendiri, mudah-mudahan juga orang Indonesia lainnya, dan semua orang di seluruh dunia yang hidup dalam situasi yang sama, untuk memahami pentingnya selalu mempertanyakan apa yang kita lihat dan bagaimana kita membayangkan. Bagaimana lagi kita membayangkan dunia kita dengan cara yang lain?

    Saya terpaksa memperkenalkan diri sebagai Anonim, sementara waktu, karena kondisi politik di Indonesia masih terlalu berbahaya bagi saya untuk membuka identitas. Film ini mungkin membuat penonton Indonesia merenungkan kemungkinan adanya para pembunuh disekitar mereka, mungkin sangat dekat, bisa tetangga, rekan kerja, atau keluarga. Tapi dengan anonimitas ini saya berharap agar penonton, juga Anda, dapat pula membayangkan bahwa mungkin saja saya sangat dekat dengan Anda. Bahwa mungkin di sekitar Anda ada banyak sekali Anonim: orang-orang seperti saya, perempuan atau laki-laki, yang diam-diam melawan.

    Oleh Christine Cynn

    Manusia mencintai fantasi. Kita teramat mencintainya sehingga kita bisa membuat diri kita mempercayai apa yang jelas-jelas palsu, bahkan merusak. Kita mencintai fantasi begitu besar sehingga kita menciptakan fantasi untuk orang-orang yang tidak mencintai kita sama sekali.

    Banyak dari kita pada suatu titik menyadari bahwa kita bertindak dengan cara yang terpisah dengan apa yang (kita yakini) kita yakini. Dengan kata lain, kita jarang sekali menjadi sosok sebagaimana bayangan kita tentang diri sendiri. Hal ini bisa terjadi pada seorang bankir dan sutradara film sebagaimana hal itu juga terjadi pada pemimpin pasukan pembunuh. Jagal/The Act of Killing diharapkan dapat mengungkap lebih dari sekadar contoh mengerikan tentang kekejaman manusia dan ketidakadilan. Harapan saya adalah bahwa film ini dapat menuntun kita mempertanyakan peran imajinasi kita dalam mengekalkan siklus sosial delusional. Imajinasi manusia adalah kunci pembuka empati, yang menuntun kita pada perbuatan sayang. Imajinasi juga adalah fondasi keingintahuan, yang menuntun kita pada penemuan. Hal ini, pada gilirannya, mengubah segala yang mungkin. Imajinasi manusia bisa juga menuntun kita untuk memutus siklus penipuan diri dan konsekuensinya yang merusak jika, dan hanya jika, kita menemukan kerendahan hati untuk mengakui tanggung jawab atas siklus dan konsekuensinya itu.